Laman

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Batuk & Flu Tak Kunjung Sembuh? Obat Sesungguhnya Ini


BATUK dan flu sering kali muncul saat musim pancaroba tiba. Dengan mengonsumsi asupan yang sehat dan tidur yang cukup, keluhan Anda pun bisa sembuh seketika.
detail berita
Musim pancaroba memang harus diwaspadai, sebab akan mengubah daya tahan tubuh seseorang jadi menurun. Sehingga tak jarang, orang terkena penyakit infeksi yang umumnya terjadi, yakni batuk dan flu.

Lantas, bagaimana cara menghindari batuk dan flu yang membandel?

"Pertama konsumsi makanan sehat, khususnya fokus pada protein dan vitamin C. Sebab, kedua vitamin itu dapat membuat sistem ketahanan tubuh orang
Tidur, obatnya batuk & flu (Foto: Google)
meningkat. Ini sendiri sebagai perlawanan bakteri yang sudah masuk ke dalam tubuh. Tapi kalau bisa mendekati makanan empat sehat lima sempurna dulu, saat awal mengalami batuk-pilek agar cepat reda," tutur  Emilia E. Achmadi MS., RD dalam acara bertema Peluncuran MYTEA; Teh Oolong dalam Kemasan Botol di F(X) Senayan, Jakarta Jakarta, belum lama ini.

Setelah konsumsi makanan sehat, sambung Emil, minumlah air putih yang banyak. Tujuannya, efek dehidrasi atau cairan tubuh yang keluar melalui flu bisa stabil lagi. Namun terpenting dari minum air mineral agar suhu dalam tubuh bisa cepat menyesuaikan suhu kondisi lingkungan. Sehingga flu dapat perlahan mereda dan batuk-batuk yang merupakan efek infeksinya mulai berkurang.

Selanjutnya, dia menambahkan bahwa tidur cukup ialah kunci penting penyembuhan infeksi batuk dan flu. Alasannya, hanya lewat tidur proses detoksifikasi virus atau bakteri batuk dan flu dihancurkan. Hal ini tidak bisa ditawar lagi, penyakit batuk dan influenza bisa sembuh jika mempunyai kebiasaan tidur cukup.

"Proses recovery (pemulihan) itu terjadi saat Anda tidur. Di mana recovery ini terkait penghancuran bakteri dan virus batuk-pilek ataupun recovery stamina seseorang. Jadi, mau tidak mau semua orang yang mengalami batuk-pilek harus tidur yang cukup. Tidak usah memikirkan sembuhnya dulu, tapi pikirkan saja tidur Anda cukup. Bila Anda sudah tidur cukup, keluhan penyakit akan hilang dengan sendirinya,” terang wanita pecinta teh ini.
Sumber : Okezone

Jumat, 24 Mei 2013

Tips Trik Merawat Kulit Dengan Buah

Tips Merawat Kulit Dengan Buah Setiap wanita pasti mendambakan kulit yang lembut dan bersinar. Bahkan kebanyakan wanita Indonesia mengidolakan kulit yang putih bersih. 

Tips Merawat Kulit Dengan Buah Padahal putih juga tidak menjamin bisa tampil cantik bukan? Yang berkulit sawo matang atau cenderung gelap pun juga tidak kalah cantiknya kalau terawat.

Tips Merawat Kulit Dengan Buah Untuk mempercantik kulit, cara yang instant adalah dengan kosmetik. Memang kosmetik dapat merubah penampilan kita dalam waktu yang relatif singkat, tapi perlu diperhatikan juga karena kosmetik bisa berdampak buruk buat kesehatan.

Tips Merawat Kulit Dengan Buah Perawatan dengan buah dan sayuran merupakan jalan yang relatif paling aman bagi kesehatan kulit. Dan juga tentunya lebih murah karena bisa kita lakukan sendiri di rumah.

Kulit Kering
Jenis kulit ini membutuhkan buah yang mengandung lemak dan kaya air.

Alpukat -
Buah Yang Baik Untuk Kulit 

 Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Alpukat kaya akan vitamin, mineral dan minyak alami. Buah ini banyak mengandung vitamin A, C, E, juga mengandung zat besi, potasium, niasin, asam pantotenik dan protein. 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Alpukat sangat baik untuk pelembab alami. Cara penggunaanya, ambil daging alpukat dan gosok lembut ke seputar wajah dan biarkan mengering selama kurang lebih 15 menit, lalu bersihkan dengan air dingin.
 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Selain dagingnya, kulit alpukatpun dapat dimanfaalkan sebagai krim penghalus kulit punggung dan lutut yang kasar. Caranya, campurkan cincangan kulit alpukat dan perasan jeruk lemon. Baru kemudian dioleskan ke kulit dengan sedikit ditekan.

Pisang
- Buah Yang Baik Untuk Kulit 

 Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Meski kandungan lemaknya tidak setinggi alpukat, pisang ini juga untuk mengencangkan dan menyegarkan serta mengurangi kerutan di wajah, gunakan masker campuran dari pisang, madu, dan putih telur. Kombinasi ini juga aman digunakan untuk semua jenis kulit.

Apel dan Melon
- Buah Yang Baik Untuk Kulit 

 Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Kedua buah ini berkhasiat membersihkan dan melembutkan kulit yang kasar serta kusam. Selain itu, sari buah apel dapat digunakan sebagai tonik pembersih dan penyegar wajah.
 
Jeruk Nipis/Jeruk Lemon
- Buah Yang Baik Untuk Kulit
 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Air yang berasal dari daging buah ini dapat membuat pori-pori mengecil dan menghilangkan kelebihan lemak pada jenis kulit berminyak. Ambil daging jeruk nipis/lemon, oleskan pada kulit wajah. 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Biasanya di sekitar hidung dan pipi yang pori-porinya terlihat besar. Khusus kulit normal tapi cenderung berminyak sebaiknya campur jeruk dengan madu untuk hasil yang lebih baik


Tomat dan Yogurt
- Buah Yang Baik Untuk Kulit 

 Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Tomat ini sebenarnya cocok untuk semua jenis kulit. Buah ini dapat melindungi kulit dari efek terbakarnya sinar matahari. Jadi sangat cocok digunakan bila kita habis beraktifitas diluar. 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Selain itu tomat juga dapat mempercepat pergantian lapisan sel-sel kulit yang lebih muda yang dengan sendirinya akan menjadikan permukaan kulit akan tampak segar dan bercahaya.
 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Bagi wanita berkulit normal cenderung berminyak dengan noda hitam di wajah, masker tomat yang digunakan perlu dicampur yoghurt bisa juga ditambah madu. Sehingga, didapatkan hasil yang memuaskan. Masker ini berfungsi memudarkan noda hitam sekaligus membersihkan dan menghaluskan kulit wajah.


Nanas
- Buah Yang Baik Untuk Kulit 

 Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Kebanyakan wanita tidak menyukai buah ini, karena dipercaya dapat menyebabkan keputihan. Tapi ternyata nanas bisa juga dimanfaatkan untuk perawatan kulit. Nanas dapat digunakan sebagai masker yang bermanfaat untuk mengangkat sel-sel kulit mati sekaligus rnenghilangkan noda,dan sangat cocok pada kulit normal dan berminyak. 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Tambahkan sedikit madu atau susu segar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun harus diingat, masker nanas tidak cocok untuk kulit kering dan sensitif, karena akan menambah kering kulit wajah dan mengakibatkan gatal.
 
Mentimun
- Buah Yang Baik Untuk Kulit

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Timun berfungsi sebagai penyegar kulit.Kandungan airnya mampu menyegarkan kulit wajah. Cara memakainya sangat mudah. Letakkan irisan timun pada wajah beberapa saat, lalu gosokkan perlahan-lahan pada seluruh wajah dan leher. 

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Untuk pembersih dan penyegar wajah, bisa digunakan masker campuran mentimun yang dicincang dengan yoghurt.

Bengkoang
- Buah Yang Baik Untuk Kulit 
 
Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Ini juga biasa digunakan untuk masker semua jenis kulit. Bengkoang berkhasiat memutihkan, mengencangkan dan menyegarkan kulit wajah.

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Buah perawat kulit wajah yang baik. Manfaat buah - buahan selain menyehatkan juga bermanfaat bagi seputar dunia wanita yaitu di gunakan untuk perawatan kecantikan kulit, yang membuat kulit wajah cantik alami, aman tanpa efek samping, mudah di dapat, dan yang pasti lebih ekonomis.

Apel - Buah Yang Baik Untuk Kulit

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Apel digunakan untuk wajah yang berminyak, caranya 1 buah apel di potong-potong dan di blender sampai halus tanpa tambahan air, setelah itu oleskan merata ke seluruh wajah anda jangan lupa bersihkan dahulu wajah anda, diamkan selama 20 menit kemudian basuh wajah dengan air hangat lalu air dingin untuk meringkas pori-pori.

Papaya - Buah Yang Baik Untuk Kulit

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Papaya bermanfaat untuk meremajakan kulit, mengangkat sel-sel kulit mati, dan mencegah kerut di wajah, caranya haluskan papaya yang ranum campurkan dengan 1 sdm madu, oleskan pada wajah diamkan selama20 menit dan bilas dengan bersih.

Melon - Buah Yang Baik Untuk Kulit

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Melon mengandung zat astringent yang bermanfaat sebagai tonik yang dapat mendinginkan kulit yang terbakar matahari, caranya iris tipis melon lalu kompreskan ke wajah diamkan selama 20 menit.

Kulit jeruk - Buah Yang Baik Untuk Kulit

Buah Yang Baik Untuk Kulit - Tips Merawat Kulit Dengan Buah Jeruk mengandung banyak vitamin C, selain buahnya yang enak di makan kulitnyapun bermanfaat yaitu untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan mengurangi kekusaman pada wajah, caranya tusuk-tusuk kulit jeruk dengan garpu kemudian masukan kulit jeruk ke dalam air hangat rendam selama satu malam, basuhkan pada wajah yang telah di bersihkan kemudian keringkan dengan handuk.

Sabtu, 11 Mei 2013

KENAPA DOKTER DI NEGARA BARAT PELIT MEMBERIKAN OBAT KEPADA ANAK YANG SAKIT (PENTING UNTUK ORANGTUA)

KENAPA DOKTER DI NEGARA BARAT PELIT MEMBERIKAN OBAT KEPADA ANAK YANG SAKIT???

(PENTING UNTUK ORANGTUA)


      Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
     Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.

Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”
Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.

Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”
Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
“Just drink a lot,” katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

Sumber: 

Contoh Kasus Gangguan Somatoform


Contoh Kasus Gangguan Somatoform

Contoh kasus
     Budi Santoso Spegawai swasta berusia 30 tahun ini sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin.
     
     Budi juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Dia bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes, namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal.
Pria itu tentunya tidak percaya hal tersebut, karena sebenarnya dia merasa ada yang salah memang dengan dirinya. Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Budi disarankan untuk datang ke bagian psikiatri/jiwa karena mungkin ada problem psikis yang melatari keluhannya.

     Dia pun sempat kesal karena saran itu, dia berkata “Memangnya saya gila Dok?!”. Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Iwan memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun.

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
B. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
• Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
• Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
• Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
• Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
• Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
• Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.

1. Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
a. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
b. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
Ó Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
Ó Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
Ó Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
Ó Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
c. Salah satu (1)atau (2):
Ó Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
Ó Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
d. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

2. Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
a. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
b. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
c. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
d. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
e. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.
f. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.

3. Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
a. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala¬gejala tubuh.
b. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
c. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
d. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
e. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
f. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

4. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
a. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
b. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

5. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
a. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
b. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
c. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
d. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
e. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
 
B. Salah satu (1)atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
 
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
 
D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
 
E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
 
F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

C. Kerangka Teori
Gangguan somatoform dibagi menjadi beberapa sub, namun yang paling sering dijumpai di klinik adalah yang dinamakan gangguan somatisasi dan gangguan hipokondrik.
Gangguan Somatisasi, Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang bermacam-macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. Keluhan ini biasanya sudah berlangsung lama dan biasanya
keluhannya berulang-ulang namun berganti-ganti tempat.
Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping). Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi, namun hasilnya negatif. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih.
Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria.
Biasanya bermula sebelum usia 30-an dan telah berlangsung beberapa tahun. Pasien biasanya tidak mau menerima pendapat dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari gejalanya. (Andri Suryadi, 2007)

1. Teori Psikodinamika
Menurut teori psikodinamika, simtom histerikal memiliki fungsi : Memberikan orang tersebut keuntungan primer dan keuntungan sekunder. Keuntungan primer, yang didapat adalah memungkinkan individu untuk mempertahankan konflik internal direpresi. Orang tersebut sadar akan simtom fisik yang muncul namun bukan konflik yang diwakilinya. Dalam kasus-kasus seperti itu, “simtom” merupakan symbol dari, dan memberikan orang tersebut “pemecahan sebagian” untuk konflik yang mendasarinya.
 
2. Teori Belajar
Dalam pandangan teori belajar, simtom dari gangguan hipokondrias dan gangguan dismorfik tubuh dihubungkan dengan gangguan obsesif kompulsif (Barsky dkk., 1992; Cororve&Gleaves, 2001). Pada hipokandrias, orang terganggu oleh pikiran-pikiran yang obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai kesehatan mereka. Pergi dari satu dokter ke dokter lain dapat merupakan suatu bentuk dari perilaku kompulsif yang diperkuat oleh hilangnya kecemasan yang dialami secara temporer saat mereka diyakinkan kembali oleh dokternya bahwa kekuatan mereka tidak terbukti. Namun pikiran-pikiran yang menggangu kembali muncul, mendorong mereka melakukan konsultasi ayng berulang.
 
3. Teori Kognitif
Teori kognitif berspekulasi bahwa hipokondrias dapat mewakili sebuah tipe dari strategi self-handicapping, suatu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada kesehatan yang buruk (Smith, Synder & Perkins, 1983).
Teori ini juga berspekulasi bahwa hipokondriasis dan gangguan panic yang sering kali terjadi secara bersamaan, dapat memiliki penyebab yang sama, cara berpikir yang terdiostorsi yang membuat orang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam sensasi tubuh sebagai tanda dari bencana yang akan terjadi (Salkovskis7 Clark, 1993). Perbedaan antara kedua gangguan itu terletak pada apakah interpretasi yang salah dari tanda-tanda tubuh membawa sebuah persepsi tentang ancaman yang akan segera terwujud dan lalu menyebabkan terjadinya kecemasan yang berputar cepat ataukah tentang ancaman dengan kisaran yang lebih panjang dalam bentruk proses penyakit yang mendasarinya.

D. ANALISIS
Berdasarkan hasil analisis bahwa subjek sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin, hal ini menurut Andri Suryadi (2007), bahwa Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor shopping). Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi, namun hasilnya negatif. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih.
Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria.

REFERENSI
Ahead. 2008. Gangguan Jiwa : Siapa yang Waras. http://sedanghidup.blogspot.com/
Andri Suryadi. 2007. Gangguan psikomatik, problem psikis yang gerogoti fisik. http://www.maitreya.or.id/forums
Arya Verdi. 2008. Gangguan Identitas Gender. http://aryaverdiramadhani.blogspot.com/2008/06/vj33vi2008-gangguan-identitas-gender.html
dr. Engelberta Pardamean, SpKJ, 2007. Gangguan Somatoform. Symposium sehari kesehatan jiwa dalam rangka menyambut hari kesehatan jiwa sedunia. Ikatan Dokter Indonesia
Jeffrey S. Dkk. 2003. Psikologi Abnormal Jilid I. Jakarta. Erlangga


Asuhan Keperawatan Menurut Gordon


Asuhan Keperawatan Menurut Gordon 

Asuhan Keperawatan
Pengkajian riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional menurut Gordon :
a.       Pola persepsi sehat - Penatalaksanaan sehat
Orang tua biasanya menganggap sebagai penyakit serius karena muncul sesak nafas yang mengganggu aktifitas.
b.      Pola Metabolik Nutrisi
Dapat muncul mual dan anoreksia sebagai dampak penurunan oksigen jaringan gastrointestinal. Anak biasanya mengeluh badannya lemah karena penurunan asupan nutrisi, terjadi penurunan berat badan.
c.       Pola Eliminasi
Anak dengan asma jarang terjadi gangguan eliminasi BAK maupun BAB.
d.      Pola tidur – Istirahat
Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur jarena sesak nafas. Penampilan anak terlihat lemah, sering menguap, mata merah, anak juga sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut.
e.       Pola aktivitas – Latihan
Anak tampak turun aktifitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan fisik. Anak tampak lebih banyak minta digendong orangtuanya atau bedrest.
f.       Pola kognitif – Persepsi
Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah disampaikan biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen pada otak. Pada saat dirawat anak tampak bingung kalau ditanya tenteng hal-hal baru disampaikan.
g.      Pola persepsidiri – Konsep diri
Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat, tidak suka bermain, ketakutan terhadap orang lain meningkat.
h.      Pola peran – Hubungan
Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya maupun yang lebih besar, anak lebih banyak diam dan selalu bersama dengan orang terdekat (orang tua).
i.        Pola seksualitas – Reproduktif
Pada kondisi sakit daan anak kecil masih sulit terkaji.
j.        Pola toleransi stress – Koping
Aktifitas yang sering tampak saat menghadapi stress adalah anak sering menangis.
k.      Pola nilai – Keyakinan
Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk mendapat sumber kesembuhan dari Allah SWT.

Pemeriksaan Fisik
1.      Status penampilan kesehatan : Lemah
2.      Tingkat kesadaran kesehatan : komposmentis atau apatis
3.      Tanda – tanda vital
a.       Frekuensi nadi dan tekanan darah : Takikardi, hipertensi
b.      Frekuensi pernafasan :
Takipnea, dispnea progresif, pernafasan dangkal, penggunaan otot bantu pernafasan.
c.       Suhu tubuh
Suhu tubuh pasien dengan asma biasanya masih dalam batas normal 36-370C.
4.      Berat badan dan tinggi badan
Kecendrungan berat badan anak mengalami penurunan.
5.      Integument
Kulit : 1. Warna : pucat sampai sianosis
2. Suhu : pada hipertermi kulit teraba panas akan tetapi setelah hipertermi teratasi kulit anak akan teraba dingin.
6.      Kepala dan mata
Data yang paling menonjol pada pemeriksaan fisik adalah pada : torax dan paru–paru.
a.       Inspeksi : frekuensi irama, kedalaman dan upaya bernafas antara lain : takipnea, dispnea progresif, pernafasan dangkal.
b.      Palpasi : adanya nyeri tekan, massa, peningkatan vocal fremitus pada daerah yeng terkena.
c.       Perkusi : Pekak terjadi bila terisi cairan pada paru, normalnya timpani (terisi udara) resonansi.
d.      Auskultasi : Suara pernafasan yang meningkat intensitasnya :
-          Suara mengi (whezing)
-          Suara pernafasan tambahan ronkhi

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis member ambaran bervariasi :
-          Bercak konsolidasi pada bronkus.
Analisa Data
DO / DS
Diagnosa Keperawatan
DO :
-          Pernafasan cepat dan dangkal (RR >35 kali permenit)
-          Bunyi nafas wheezing, ronki basah, terdapat retraksi dada dan penggunaan otot bantu pernafasan.
-          Batuk biasanya produktif dengan produksi sputum yang cukup banyak.
DS :
-          Pasien mengeluh sesak nafas
Bersihan jalan nafas tidak efektif
Berhubungan dengan
Peningkatan produksi sputum
DO :
-          Penurunan CO2
-          Takikardi
-          Kelelahan
-          Warna kulit abnormal (pucat)
-          Nafas cuping hidung
DS :
-          Anak mengeluh sesak nafas
Gangguan pertukaran gas
Berhubungan dengan
ventilasi pasien yang abnormal
DO :
-          Dispnea, sianosis
-          Takipnea dan takikardi
-          Gelisah atau perubahan mental
-          Kelemahan fisik
-          Dapat juga terjadi penurunan kesadaran
-          Nilai AGD menunjukan peningkatan PCO2 (N : 35-45 MmHg, sedangkan pada kondisi asidosis dapat menjadi 70 MmHg) dan penurunan PH (N : 7,35-7,45 kalau asidosis 7,25 MmHg)
DS : -
Gangguan perfusi jaringan
Berhubungan dengan
Penurunan oksigen darah
DO :
-          pertanyaan berulang-ulang
-          pasien tidak bisa tidur, istirahat
DS :
-          keluarga mengatakan takut
-          keluarga merasa cemas
Cemas
Berhubungan dengan
Tindakan inpasif
DO :
-          Laporan verbal kelemahan, keletihan
-          Pasien tampak lemah, sat dicoba untuk bangun pasien mengeluh tidak kuat.
-          Nadi teraba lemah dan cepat dengan frekuensi >100 kali permenit
DS :
-          Pasien mengatakan lelah dan letih
Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan
Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Diagnosa keperawatan
Tujuan
KH
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Peningkatan produksi sputum

1.   Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi napas bersih
2.   Menumjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas. Mis : batuk efektif dan mengeluarkan secret.

Intervensi
Rasional
1.      Kaji fekuensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.




2.      Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tak ada aliran udara.



3.      Bantu pasien latihan nafas dan batuk secara efektif.




4.      Saction sesuai indikasi

5.      Lakukan fisioterapi dada.
1.      Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris terjadi karena peningkatan tekanan dalam paru dan penyempitan bronkus. Semakin sempit dan tinggi tekanan semakin meningkat frekuwensi pernafasan.
2.      Suara mengi mengindikasikan terdapatnya penyempitan bronkus atau sputum. Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.

3.      Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. Batuk secara efektif mempermudah pengeluaran dahak dan mengurangi tingkat kelelahan akibat batuk.
4.      Mengeluarkan sputum secara mekanik dan mencegah obstruksi jalan nafas.
5.      Merangsang gerakan mekanik lewat vibrasi dinding dada supaya sputum mudah bergerak keluar.

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
KH
2.      Gangguan pertukaran gas b.d  ventilasi pasien yang abnormal
Setelah dilakukan perawatan selama …x24 jam mempertahankan pertukaran gas yang normal selama dalam perawatan.
1.   anak tidak mengeluh sesak napas
2.   nafas 60 x/mnt
3.   tidak sianosis.
4.   Menumjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan AGD dalam batas normal.

Intervensi
Rasional
1.      Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas bibir, ketidakmampuan bicara.
2.      Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa.
3.      Dorong mengeluarkan sputum, penghisapan bila diindikasikan



4.      Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan bunyi tambahan.
1.      Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit.
2.      Keabu-abuan dan diagnosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksia.
3.      Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumbur utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif.
4.      Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/tertahannya secret.

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
KH
3.      Gangguan perfusi jaringan b.d Penurunan oksigen darah

1.   Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat sesuai dengan kebiasaan individu seperti kebiasaan makan, tanda-tanda vital yang pasti, kehangatan, tekanan nadi perifer, keseimbangan intake dan output.

Intervensi
Rasional
1.      Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas.


2.      Observasi warna kulit, catat adanya sianosis pada kulit, kuku dan jarinan sentral.



3.      Kaji status mental dan penurunan kesadaran.
1.      Distres pernafasan yang dibuktikan dengan dispnea dan takipnea sebagai indikasi penurunan kemampuan menyediakan oksigen bagi jaringan.
2.      Sianosis kuku menunjukan vasokonstriksi. Sedangkan sianosis daun telinga, membrane mukosa dan kulit disekitar mulut (membrane hangat) menunjykan hipoksemia sistemik.

3.      Gelisah, mudah tersinggung, bingung dan somnolen sebagai petunjuk hipoksemia atau penurunan oksigenasi serebral.

Dianosa Keperawatan
Tujuan
KH
4.      Cemas b.d Tindakan inpasif
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ... x 24 jam, klien mampu beradaptasi
Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel

Intervensi
Rasional
1.      Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan
2.      Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
3.      Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
4.      Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
5.       Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak
1.      Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2.      mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
3.      menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
4.      Kasih sayang serta pengenalan diri perawat akan menumbuhkan rasa aman pada klien.

SEMOGA BERMANFAAT.

SELALU KUNJUNGI SITUS-FS INI
SITUS BISNIS, TIPS TRIK, INFO MENARIK, KREATIFITAS MAHASISWA
www.situs-fs.blogspot.com